“Diam bukan berarti tidak mampu menjawab. Diam memiliki dua tujuan: mengabaikan hal-hal sepele yang diangkat. Dan melihat tidak adanya manfaat dalam percakapan.”
— Sidi Sheikh Rohimuddin Nawawi Al-Bantani
“Diam bukan berarti tidak mampu menjawab. Diam memiliki dua tujuan: mengabaikan hal-hal sepele yang diangkat. Dan melihat tidak adanya manfaat dalam percakapan.”
— Sidi Sheikh Rohimuddin Nawawi Al-Bantani
Temukan koleksi postingan blog yang penuh wawasan dan menarik.
Barangsiapa menghiasi zahirnya dengan mujahadah, maka Allah memperbaiki sisi batinnya dengan musyahadah (penyaksian). Ketahuilah bahwa seseorang yang dalam awal perjalanan hidupnya tidak pernah mengalami mujahadah,
“Siapakah orang yang paling bahagia dalam hidup ini? Siapakah yang paling puas (ridho)? Orang yang puas (ridho) dengan kedudukannya dalam hidup yang telah ditetapkan oleh
“Hendaklah orang yang berakal segera mengusahakan makrifat dengan sungguh-sungguh dan tidak menunda-nunda, agar saat dijemput maut dia dalam keadaan makrifat, tidak menderita ketidaktahuan. Sungguh, bila
“Orang yang selama di dunia berusaha mencari kenikmatan makrifat dan ahwal serta nikmat penglihatan (musyahadah) dan kedekatan di akhirat, maka mereka sebaik-baik pencari. Sebab tujuan
“Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah) termasuk kategori ibadah. Dan seseorang tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan ilmu. Hukum mujahadah adalah fardhu ‘ain bagi setiap mukalaf.”
“Hampir tidak bertentangan antara akal yang terang dengan hati yang benar. Berbeda jika akalnya masih remang.” — Sidi Syaikh Rohimuddin Nawawi Al-Bantani
“Setiap hari, Allah (swt) membuat matahari terbit dan berfirman, “Aku memberikan cahaya kepada hamba-hamba-Ku.” Itulah matahari yang dapat kita lihat. Ada juga matahari spiritual yang
Cinta adalah manakala Tuhan berkata kepadamu “Aku telah menciptakan segala sesuatu untukmu” dan kau berkata “aku tinggalkan segalanya itu demi Engkau”. — Mawlana Jalaluddin Rumi
Salam 👋
Apakah ada yang bisa kami bantu?